YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Google+ Followers

Jumat, 21 Juni 2013

Tanda Tanya

     Aku adalah gadis menjelang usia 19 tahun yang masih tidak diperbolehkan keluar malam oleh orang tua. Helloooo, 2013 gituloh. Aku sering banget kesel sama papa mama tentang ini.
     Aku mulai merasakan apa itu bergaul, hang out, sama temen-temen waktu SMP. Ya.. Namanya juga ABG, waktunya nyoba-nyoba hal baru, kan. Banyak yang terjadi waktu SMP, mulai dari batal puasa berjama'ah, nyobain mix max, karaoke, ngafe.. 
     Dari dulu aku di-ketemu-in sama temen-temen yang punya orang tua yang sangat pengertian (baca: memperbolehkan anaknya main sampai malam). Kalau aku sendiri setuju ya sama orang tua yang kayak gitu. Selama si anak gak melakukan hal negatif like.. Free sex, drugs, or else, gak ada salahnya, toh, namanya juga cuma bergaul sama temen-temen, cuma ngobrol, makan, gitu doang. Justru semakin orang tua menentang dan mengekang, si anak malah makin memberontak.
     Seharusnya orang tua aku bersyukur aku gak kayak gitu. Walau pun sering aku sengaja pulang agak telat dari batas waktu yang mereka berikan (jam 6 sore, maghrib coy, parah gak sih???), tetap saja kejadian papa marah-marah dan ngomong kemana aja sambil adegan Aria Wiguna hentak-hentak kaki terulang lagi, but I always don't give a fuck about it. I'm just go to my room, take off my accessories, change cloth, and my dad will start yelling after that. Yang gak aku suka adalah cara beliau marah. Omongannya tuh selalu kemanaaa aja, kayaknya gak pake hanura gitu. Padahal aku kan anaknya, bukan anak orang lain.
     Pernah kepikiran gak sih, kenapa orang tua selalu saja bilang durhaka, atau hal yang semacam itu. Kenapa orang tua selalu membawa-bawa dosa kepada orang tua, memangnya orang tua tidak bisa berdosa kepada anak? Aku yakin bisa, dan ada hukumnya juga tentang itu. Aku tau betul bahwa di agamaku menyebutkan bahwa "ridho Allah adalah ridho orang tua". Tapi entah kenapa aku selalu tidak bisa menerima hal itu. Aku sering bertanya, kenapa harus gitu sih? Kenapa gak kesepakatan antara anak dan orang tua aja biar adil? Aku juga sering dibuat bertanya-tanya dengan kalimat "kalau sudah menikah harus selalu nurut kepada suami". Aku juga tidak bisa menerima hal itu. Kalau kata temen aku, sih, aku belum nemu aja alasan yang 'klik' yang bisa bikin aku bilang, "Oh, iya!" untuk hal ini.
     Dia juga menceritakan.. Dulu waktu zaman nabi, entah nabi siapa aku lupa, diceritakan bahwa ada seorang wanita yang sudah menikah dan ia tinggal bersama suaminya, rumahnya berada jauh dengan rumah orang tuanya. Suatu ketika ibunya jatuh sakit dan sudah sekarat, si wanita tersebut ingin menjenguk dan merawat sang ibu tentunya, tapi saat itu suaminya sedang tidak ada di rumah dan dia tau sekali bahwa "tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suami". Zaman dulu kan gak ada henfon ya, kebayang gak sih kayak gimana. Sampai akhirnya ibunya meninggal dan si wanita tak sempat bertemu ibunya untuk yang terakhir kalinya. Tak lama setelah itu, si wanita pun meninggal. Dan mereka berdua masuk surga. Kenapa? Si wanita masuk surga karena menuruti perintah suaminya, dan si ibu masuk surga karena berhasil mendidik anaknya untuk menuruti perintah suaminya.
     Memang berat, sih, ya kalau kelakuan kita ternyata masih terhubung pada orang tua kita. Tapi entah kenapa lagi dan lagi aku tetep gak bisa menerima hal ini. Papa selalu bilang aku orang yang tidak punya prinsip. Prisip seperti apa maksud papa? Aku punya, kok. Aku selalu melakukan hal yang menurut aku tidak salah. Apa yang salah dengan ketemu teman, ngobrol sampai malam? Apa salahnya??? Aku kan ngobrolnya gak sambil smoke weed, gak dosa kan? Dan setelah aku sampai rumah pun dibentak-bentak hampir 10 menit. Menghasilkan beberapa kali kata durhaka dan satu pintu yang roboh dari engselnya. Aku cuma bisa diam, habis kalau aku jawab pertanyaannya malah makin dibentak. Tapi diam juga masiiiih aja salah. Apa jadi anak itu memang menjadi gudangnya kesalahan? Apa setiap orang tua selalu berpikir bahwa dia paling benar, paling pintar, paling bersih, dan anak-anak mereka cuma anak ingusan yang gak tau apa-apa. 
     Pernah sekali aku kesal karena dikatain: "Memangnya kamu siapa mengajari saya, usia kamu bahkan jauh dengan saya. Kamu tidak lebih pintar dari saya. Kamu tidak pantas mengajari saya."
Aku gak pernah ada maksud untuk mengajari, aku cuma mau ngasih tau, ini loh, point of view aku. Ini loh cara aku memandang sesuatu. Aku sangat tidak bisa terima dan tidak menyangka bakal mendengar kalimat seperti itu. Memangnya usia adalah patokan dari segala hal? Menjadikan seseorang lebih pintar atau lebih tau tentang hidup? Ngga, kan..
     Bukankah ucapan adalah do'a, dan do'a orang tua itu sangat mujarab? Lalu ketika beliau berkata aku adalah anak durhaka yang tidak memiliki prinsip dan harga diri, bakal jadi seperti apa aku nanti?
Dan apa dengan menendang pintu dan semacamnya akan menyelesaikan segala masalah? Nggak, kan? Aku selalu ingin berbagi hal ini dengannya. Tapi aku yakin beliau tak akan mau dengar. Baginya aku cuma anak baru kemarin yang harusnya dikerangkeng di rumah, dijadiin pajangan.
     Yang aku kesal tuh, kalau liburan kuliah nih ya, bete dong di rumah terus. Bangun tidur, nonton tv, makan, nonton tv, online, nonton dvd, online, makan, mandi kadang-kadang, tidur lagi. Setiap orang juga punya batas jenuhnya masing-masing, kan. Sekalinya aku mau main keluar pasti ada embel-embel: "Main saja!", "Jangan sampai malam!", "Menghabiskan uang saja!".
Ya namanya juga anak usia 18 tahun, belum gawe, mau punya duit dari mana? Tiap mau kerja sambilan selalu dilarang, toh maksud aku biar meringankan mereka juga, kan? Suka gak paham sama pola pikir orang tua. Gak tau orang tua aku yang terlalu kolot pikirannya gak tau akunya yang terlalu modern.
     Papa selalu bilang sikap dan pikiran aku sama sekali tidak mencerminkan keluarga dan silsilah keluarganya yang terdahulu. Terus aku harus apa? Nurut dijadiin pajangan dirumah?
Tiap aku di rumah, kehidupan pun berlangsung sendiri-sendiri. Papap sibuk dengan kerjaannya, mama juga, dan kehidupan aku 60% berlangsung di kamar. Aku juga tidak pernah diajak vacation kemana gitu, ke pantai atau ke gunung misalnya pas hari libur. Gak pernah!!!! Aku selalu iri sama orang lain yang keluarganya bisa sarapan bareng di satu meja makan, bisa jalan-jalan, ada quality time with family, nah aku? Aku selalu dibiarkan sendiri. Mungkin mama kadang bertanya tentang kuliahku, temanku, dllnya. Tapi aku tetap merasa ada yang salah dengan pikiran-pikiran mereka, dengan kekangan mereka. Entah siapa yang salah. Entah kapan "kenapa?"-ku akan terjawab.