YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 21 Juni 2013

Tanda Tanya

     Aku adalah gadis menjelang usia 19 tahun yang masih tidak diperbolehkan keluar malam oleh orang tua. Helloooo, 2013 gituloh. Aku sering banget kesel sama papa mama tentang ini.
     Aku mulai merasakan apa itu bergaul, hang out, sama temen-temen waktu SMP. Ya.. Namanya juga ABG, waktunya nyoba-nyoba hal baru, kan. Banyak yang terjadi waktu SMP, mulai dari batal puasa berjama'ah, nyobain mix max, karaoke, ngafe.. 
     Dari dulu aku di-ketemu-in sama temen-temen yang punya orang tua yang sangat pengertian (baca: memperbolehkan anaknya main sampai malam). Kalau aku sendiri setuju ya sama orang tua yang kayak gitu. Selama si anak gak melakukan hal negatif like.. Free sex, drugs, or else, gak ada salahnya, toh, namanya juga cuma bergaul sama temen-temen, cuma ngobrol, makan, gitu doang. Justru semakin orang tua menentang dan mengekang, si anak malah makin memberontak.
     Seharusnya orang tua aku bersyukur aku gak kayak gitu. Walau pun sering aku sengaja pulang agak telat dari batas waktu yang mereka berikan (jam 6 sore, maghrib coy, parah gak sih???), tetap saja kejadian papa marah-marah dan ngomong kemana aja sambil adegan Aria Wiguna hentak-hentak kaki terulang lagi, but I always don't give a fuck about it. I'm just go to my room, take off my accessories, change cloth, and my dad will start yelling after that. Yang gak aku suka adalah cara beliau marah. Omongannya tuh selalu kemanaaa aja, kayaknya gak pake hanura gitu. Padahal aku kan anaknya, bukan anak orang lain.
     Pernah kepikiran gak sih, kenapa orang tua selalu saja bilang durhaka, atau hal yang semacam itu. Kenapa orang tua selalu membawa-bawa dosa kepada orang tua, memangnya orang tua tidak bisa berdosa kepada anak? Aku yakin bisa, dan ada hukumnya juga tentang itu. Aku tau betul bahwa di agamaku menyebutkan bahwa "ridho Allah adalah ridho orang tua". Tapi entah kenapa aku selalu tidak bisa menerima hal itu. Aku sering bertanya, kenapa harus gitu sih? Kenapa gak kesepakatan antara anak dan orang tua aja biar adil? Aku juga sering dibuat bertanya-tanya dengan kalimat "kalau sudah menikah harus selalu nurut kepada suami". Aku juga tidak bisa menerima hal itu. Kalau kata temen aku, sih, aku belum nemu aja alasan yang 'klik' yang bisa bikin aku bilang, "Oh, iya!" untuk hal ini.
     Dia juga menceritakan.. Dulu waktu zaman nabi, entah nabi siapa aku lupa, diceritakan bahwa ada seorang wanita yang sudah menikah dan ia tinggal bersama suaminya, rumahnya berada jauh dengan rumah orang tuanya. Suatu ketika ibunya jatuh sakit dan sudah sekarat, si wanita tersebut ingin menjenguk dan merawat sang ibu tentunya, tapi saat itu suaminya sedang tidak ada di rumah dan dia tau sekali bahwa "tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suami". Zaman dulu kan gak ada henfon ya, kebayang gak sih kayak gimana. Sampai akhirnya ibunya meninggal dan si wanita tak sempat bertemu ibunya untuk yang terakhir kalinya. Tak lama setelah itu, si wanita pun meninggal. Dan mereka berdua masuk surga. Kenapa? Si wanita masuk surga karena menuruti perintah suaminya, dan si ibu masuk surga karena berhasil mendidik anaknya untuk menuruti perintah suaminya.
     Memang berat, sih, ya kalau kelakuan kita ternyata masih terhubung pada orang tua kita. Tapi entah kenapa lagi dan lagi aku tetep gak bisa menerima hal ini. Papa selalu bilang aku orang yang tidak punya prinsip. Prisip seperti apa maksud papa? Aku punya, kok. Aku selalu melakukan hal yang menurut aku tidak salah. Apa yang salah dengan ketemu teman, ngobrol sampai malam? Apa salahnya??? Aku kan ngobrolnya gak sambil smoke weed, gak dosa kan? Dan setelah aku sampai rumah pun dibentak-bentak hampir 10 menit. Menghasilkan beberapa kali kata durhaka dan satu pintu yang roboh dari engselnya. Aku cuma bisa diam, habis kalau aku jawab pertanyaannya malah makin dibentak. Tapi diam juga masiiiih aja salah. Apa jadi anak itu memang menjadi gudangnya kesalahan? Apa setiap orang tua selalu berpikir bahwa dia paling benar, paling pintar, paling bersih, dan anak-anak mereka cuma anak ingusan yang gak tau apa-apa. 
     Pernah sekali aku kesal karena dikatain: "Memangnya kamu siapa mengajari saya, usia kamu bahkan jauh dengan saya. Kamu tidak lebih pintar dari saya. Kamu tidak pantas mengajari saya."
Aku gak pernah ada maksud untuk mengajari, aku cuma mau ngasih tau, ini loh, point of view aku. Ini loh cara aku memandang sesuatu. Aku sangat tidak bisa terima dan tidak menyangka bakal mendengar kalimat seperti itu. Memangnya usia adalah patokan dari segala hal? Menjadikan seseorang lebih pintar atau lebih tau tentang hidup? Ngga, kan..
     Bukankah ucapan adalah do'a, dan do'a orang tua itu sangat mujarab? Lalu ketika beliau berkata aku adalah anak durhaka yang tidak memiliki prinsip dan harga diri, bakal jadi seperti apa aku nanti?
Dan apa dengan menendang pintu dan semacamnya akan menyelesaikan segala masalah? Nggak, kan? Aku selalu ingin berbagi hal ini dengannya. Tapi aku yakin beliau tak akan mau dengar. Baginya aku cuma anak baru kemarin yang harusnya dikerangkeng di rumah, dijadiin pajangan.
     Yang aku kesal tuh, kalau liburan kuliah nih ya, bete dong di rumah terus. Bangun tidur, nonton tv, makan, nonton tv, online, nonton dvd, online, makan, mandi kadang-kadang, tidur lagi. Setiap orang juga punya batas jenuhnya masing-masing, kan. Sekalinya aku mau main keluar pasti ada embel-embel: "Main saja!", "Jangan sampai malam!", "Menghabiskan uang saja!".
Ya namanya juga anak usia 18 tahun, belum gawe, mau punya duit dari mana? Tiap mau kerja sambilan selalu dilarang, toh maksud aku biar meringankan mereka juga, kan? Suka gak paham sama pola pikir orang tua. Gak tau orang tua aku yang terlalu kolot pikirannya gak tau akunya yang terlalu modern.
     Papa selalu bilang sikap dan pikiran aku sama sekali tidak mencerminkan keluarga dan silsilah keluarganya yang terdahulu. Terus aku harus apa? Nurut dijadiin pajangan dirumah?
Tiap aku di rumah, kehidupan pun berlangsung sendiri-sendiri. Papap sibuk dengan kerjaannya, mama juga, dan kehidupan aku 60% berlangsung di kamar. Aku juga tidak pernah diajak vacation kemana gitu, ke pantai atau ke gunung misalnya pas hari libur. Gak pernah!!!! Aku selalu iri sama orang lain yang keluarganya bisa sarapan bareng di satu meja makan, bisa jalan-jalan, ada quality time with family, nah aku? Aku selalu dibiarkan sendiri. Mungkin mama kadang bertanya tentang kuliahku, temanku, dllnya. Tapi aku tetap merasa ada yang salah dengan pikiran-pikiran mereka, dengan kekangan mereka. Entah siapa yang salah. Entah kapan "kenapa?"-ku akan terjawab. 

Minggu, 19 Mei 2013

Review Novel "L" -nya Kristy Nelwan

Pertama baca novel ini sekitar pertengahan 2011, dikasih pinjam sama teman sekolahku (Nurul Imam) dengan alasan... ceritanya menarik dan tokoh utamanya agak mirip dengan aku. Walaupun kalau menurut penjabaran mbak Kristy Nelwan, sih, Ava Torino a.k.a tokoh utama di novel itu tinggi 170an, cantik, alcoholic, sangat-sangat tidak percaya cinta pada awalnya tapi berubah di akhir cerita.. So different with me, tapi aku merasa sifat dan kelakuan Ava ada yang mirip juga denganku. Pertama baca sinopsisnya...

     "Ava Torino, twenty something girl, yang bekerja sebagai produser di sebuah stasiun televisi lokal di Bandung, agak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Ava not really into romantic or love things. Ia menganggap pacaran adalah sesuatu yang seharusnya fun. Dan, biar semakin fun, ia nekat meneruskan ide gilanya semasa kuliah dulu: berganti-ganti pacar, sampai ke-26 alfabet tergenapi sebagai huruf awal nama-nama sang pacar.
     Dengan ke-adventurous-annya, tidak sulit bagi Ava untuk memenuhi rencana gilanya itu. Namun, tanpa disangka, cowok yang paling sulit ditemukan justru yang namanya berawal hufur L. Maka, cara berpikirnya yang logis memutuskan, siapa pun dia, si L akan menjadi Last Love-nya.
     Sayang, Ava tidak menyadari betapa rahasia semesta ini terlalu besar untuk ditaklukkan oleh logika berpikirnya.... hingga terjadilah peristiwa itu...."

...aku langsung penasaran. Ini ceritanya bakal gimana, ya? Ending-nya gimana, nih.. Intip dulu jangan ya, halaman terakhirnya.. Eh, jangan deh, ntar gak seru.
Pikiran-pikiran seperti itu melintas di benakku. Pada akhirnya aku tak tega mengintip halaman terakhir dan mengikuti ceritanya dari awal sampai akhir.

Ketawa, serius, senyum-senyum sendiri pada bagian awal-tengah. Namun semua tawa tadi berganti dengan.. Air mata. Aku nangis beberapa kali di beberapa bab terakhir. Benar-benar menyentuh. Apalagi ending-nya yang.. unpredictable banget. Aku sampai sekarang suka kesel sendiri. Kenapa Ava dan Rei gak nikah aja sih???


Ini cover novel L waktu aku pertama baca.. Tapi seingatku dulu warnanya hijau...?

Dan yang ini L milikku yang aku post ke instagram.



Baru aja tadi aku beres baca L untuk kedua kalinya. Setelah aku beres baca L pertama kalinya waktu 2011 lalu, aku cari novel ini sampai keliling toko buku di Bandung, tapi hasilnya nihil. Semua udah gak punya stok novel ini. Aku cuma bisa kecewa, kecewa, dan kecewa. Dan berharap novel ini dicetak lagi.

Dua tahun lamanya, selama itu aku cuma bisa mengingat-ingat part-part yang masih aku ingat dari novel ini. Inti ceritanya sih, aku ingat. Karena aku punya penyakit ijp (ingatan jangka pendek) akut, ada beberapa part yang aku sempet lupa, dan sekarang sudah aku ingat lagi berhubung aku baru banget beres baca L beberapa menit yang lalu. Aku jadi ingat lagi kenapa aku jatuh cinta banget sama novel ini. Kalau boleh lebay sih, this novel really change my life, change my point of view to life, to love..
And here I am, crying all over again!

Keisengan Ava mengoleksi mantan sesuai abjad memang gak aku lakuin--mungkin kalau aku baca ini waktu aku belum pernah pacaran dan terlanjur memiliki mantan yang huruf depannya sama beberapa kali akan aku lakuin--tapi cara Ava memandang pacaran itu seharusnya fun, it's really me. Dan masih banyak lagi hal-hal yang aku merasa kalau Ava tuh 'aku banget'. Sejak pertama pacaran waktu SMP, aku sudah mempunyai mantan sejumlah dengan usiaku sekarang. Dan ada beberapa yang merupakan hasil dari, hmm, selingkuh. Tapi setelah membaca novel ini, aku bersumpah pada diriku sendiri (cie) aku gak akan selingkuh lagi. Lebih baik putus dulu baru jadian sama orang lain daripada mendua, mentiga, apalagi mentimun.. Eh, beda, ya?

Aku berubah jadi manusia yang lebih menghargai suatu hubungan. Aku sekarang jijik banget sama orang yang suka selingkuh. Ngapain sih? Kurang kerjaan banget. Biar apa sih selingkuh? Biar dibilang laku, banyak yang suka? Atau mencari kebahagiaan lain? Ah itu mah cuma pembenaran. Nyari kebahagiaan tapi kok nyakitin orang lain sih, pikirin pacar sendiri tuh perasaannya bakal gimana kalau tahu kamu selingkuh. Ada beberapa faktor juga yang bikin aku jijik. Aku jijik sama diri aku sendiri yang dulu pernah 'berkhianat' sama orang yang sayang sama aku, kenapa dulu aku jahat banget.. Juga karena orang terdekat aku, yang selama ini selalu tampak cool dan berwibawa, seseorang yang sangat aku hormati, tapi semua anggapan aku lenyap setelah aku tahu dia... berkhianat.
Yang bisa bikin aku sampai pada pemikiran ini ada faktor dorongan dari luar juga sih, ini adalah kutipan dari beberapa teman aku:

"Aku tahu kamu orangnya cuek banget. Kamu gak peduli omongan orang lain tentang kamu. Bagus kamu cuek, jadi kamu gak banyak pikiran dan gak pernah stres. Tapi kamu gak boleh terlalu cuek dan melakukan segala sesuatu dengan kehendak kamu, karena kamu hidup di dunia ini gak sendiri. Orang-orang lihat kamu dan men-judge kamu. Ya begitulah kehidupan." - Kurnia Mutiara Sari

"Kamu gak punya pendirian, ya, Syur." - Raden Jays Maulana Mukmin

"Jadi cewek tuh harus tahan harga, wajib jual mahal, harus punya prinsip. Jangan pacaran itu karena suka terus jadian, tapi harus selektif." - Putri Nurul Arasyani

Feel so FTV when I read the last part of L, my phone suddenly played Sammy Simorangkir - Kesedihanku. Cocooook banget sama yang Ava rasain di bab-bab terakhir novel ini. Lagu mas Sammy yang selama ada di memori hape selalu aku skip sekarang aku putar beberapa kali. Kebetulan yang menyenangkan. Ada yang suka merasakan kebetulan yang menyenangkan juga gak, ya, kayak aku..?
Misalnya tadi, layar hapeku menunjukkan sedang memutar lagu Maliq n d'Essentials - Jatuh Cinta dan tiba-tiba ada sms masuk dari sangke, alias sang kekasih:"> dari awal aku mendengarkan lagu ini memang cocok sekali dengan feel aku saat itu, lagu ini memang aku dedikasikan buat dia. Agak getek sih, nulis ini. Tapi gak apa-apa, toh dia gak akan baca juga:))

Novel L adalah titik balik dimana aku mulai mencintai novel melebihi komik, yang notabene adalah bacaan wajib aku sejak kelas satu SD. Koleksi komik aku udah berkali-kali lipat jumlahnya dari tumpukan buku pelajaran semasa sekolah dulu. Aku sempet bermimpi, someday aku ingin jadi komikus. Tapi sadar akan talenta dalam menggambar dan mewarnai yang sangat buruk, aku mengurungkan niatku. Dan setelah L ini lah, aku mulai berpikir, apa aku jadi penulis aja? Seperti mbak KNel yang menulis dan berbagi 'perasaan ini' sama aku, yang bisa ngerubah hidup dan pola pikir orang lain, yang ngerubah cara orang menjalani hidup, yang bisa bikin orang lain nangis dan ketawa..

Aku rasa menulis tidak butuh talenta khusus seperti bisa menggambar, bisa akting, ataupun bisa menyanyi. Aku orang yang sangat menyukai kebebasan tapi masih dalam batas wajar. Dan buat aku, menulis adalah salah satu caranya. Misalnya kita bebas menulis apa pun yang kita inginkan di blog, tapi tetap ada batas kewajarannya, kan? Gak boleh ada unsur-unsur yang mampu membuat perang dunia ke-3, misalnya.

Untuk sekarang ini aku sudah punya drafts calon novel-novel aku kelak, tapi baru satu cerita yang selesai dan itu pun masih kurang dari 100 halaman. Aku masih harus banyak belajar. Jika ingin menulis, kita harus banyak membaca. Dan itulah cara aku belajar. Cheers, SKN. :)

Selasa, 14 Mei 2013

Syarat Agar Disebut Cantik

     Ini sebenarnya semacam curhat, pengalaman pribadi. Tempo hari aku ikut acara pemilihan gitu lah di kota tempat aku tinggal, pertama dilakukan tes tulis dan wawancara. Di hari itu juga pengumumannya, dan aku gak lolos. Aku sadar sih aku memang 'kurang' makanya gak lolos, tapi karena gak dikasih tahu kurangnya ada dimana, walaupun aku ikut ini cuma 'gosok-gosok berhadiah', aku jadi kepikiran juga.. Kira-kira yang kurang apanya, ya?

BRAIN


Wawasan Luas
Otak itu penting. Penting banget malah. Aku sadar aku memang belum banyak mengetahui tentang kota ini, walaupun sejak 18 tahun yang lalu udah tinggal disini, keluarga aku bukan tipe explorer jadi aku memang jarang jalan-jalan kecuali sama teman-teman. Aku gak tahu banyak tentang pariwisata, batik, dan apapun yang berbau tradisional dari kota ini, dari provinsi ini, dan luasnya, dari Indonesia.

Bahasa
Disini dituntut untuk menguasai minimal tiga bahasa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Daerah. Untuk Bahasa Indonesia aku rasa gak ada masalah untuk wawancara, masalah datang pada dua bahasa lainnya. Walaupun saat ini aku sedang berkuliah di jurusan Sastra Inggris, aku belum merasa sudah fasih berbahasa Inggris layaknya native speaker. Apalagi bahasa Sunda, sebetulnya aku menyelipkan bahasa Sunda di percakapanku sehari-hari, walaupun gak sepenuhnya tapi aku tetap menggunakannya. Ternyata kalimat bahasa Sunda-ku sehari-hari salah total. Susunannya, cara bacanya, kalau guru bahasa Sunda aku semasa SD, SMP, dan SMK tahu, bisa ngambek nih kayaknya. Aku benar-benar kesulitan saat dites bahasa Sunda. Aku udah yakin aku gagal total disini.

Bakat
Waktu mau nulis kolom "Prestasi : .........." aja aku sampe gak jadi dan nyimpen berkas formulirnya dua hari. Bakat aku apa? Sampe muter otak berapa kali tetep gak ketemu jawabannya. Mungkin inilah kenapa semasa sekolah dulu aku sering mendengar "WAJIB MENGIKUTI EKSKUL, JIKA TIDAK MAKA SISWA TAK AKAN NAIK KELAS". Aku yang sedari kecil sangat tidak mempercayai mitos, atau apapun yang terdengar 'lucu' gak akan pernah aku lakuin. Malah semacam ingin nantangin, bener gak nih, bakal gak naik kelas?
     Kayak waktu SD aku inget banget ada salah satu temen aku bilang harus nyudah tiga kali kalo liat kadal, ntar anaknya kayak kadal. Gak boleh nyiumin pulpen harum yang ada gantungannya soalnya berisi narkoba (yakaleee, pusat rehabilitasi penuh sama anak SD. Emang tuh pulpen gak dites dulu sebelum menuju ke pasar), kalau pensil udah lebih pendek dari kelingking harus dibuang soalnya ntar ibu kamu mati (kamu kira nyawa ibu aku bisa diukur dari pensil yang dibeli di warung?), pabanyak-banyak cerita ketemu hantu (biar disangka anak indigo mereun), gak boleh nyanyi lagu aserehe plus joged-jogednya, soalnya lagu manggil cetan (uuu dukun kaliyaaa). Daaan masih banyak lagi. Aku cuma ketawa renyah aja ngedenger temen ngomong gitu.
     Kenapa aku bisa sampai titik gak bisa percaya mitos dari SD--yang kalau aku pikir sih masih kecil banget dulu tuh--karena sahabat aku dari TK punya pemikiran yang sama dengan aku. Aku percaya lingkungan bisa merubah seseorang, dan aku bersyukur aku diketemuin sama dia di lingkungan aku. Kami akhir-akhir ini suka bertukar pandangan tentang sesuatu, kami bisa bercerita atau pun berdebat sampai larut malam membahas berbagai macam hal. Ada beberapa pemikirian dia yang berhasil merubah kehidupan aku, dan sisanya sih aku dan dia ternyata memang sudah satu pikiran.
     Walau pun sempet ada beberapa mitos yang sempet mau aku percaya tapi seiring bertambahnya usia, aku sulit untuk percaya mitos sekarang. Sekalinya tergoda untuk percaya aku selalu berpikir rasional dan aku selalu ingat aku punya Al-Qur'an, dan punya teman untuk di-share dan diminta pendapatnya. Tapi ada dua hal yang entah masuk kategori mitos atau apa, aku percaya kekuatan sompral dan aku percaya what you give is what you deserve. Makanya aku selalu menyesal setiap kali aku bercanda kelewatan sehingga menjadi sompral, dan berusaha tidak mengulanginya lagi. Aku juga selalu berusaha menjadi pribadi yang menyenangkan untuk semua orang, walau pun adalah hal yang tidak memunginkan untuk bisa menyenanangkan semua orang.. At least I tried.
     Balik lagi ke topik, mungkin kurikulum sekolah memang sudah menyusunnya sedemikian rupa untuk masa depan siswa siswinya, makanya diwajibkan ikut ekskul. Siswa siswinya aja yang bandel, males ikut atau sok sibuk gitu kayak aku. Sekarang kerasa, beneran deh kerasaaaa banget. Ternyata berorganisasi itu kebutuhan. Walaupun aku gak suka karena terlalu terikat, senioritas, terlalu formal, it's boring for me. Tapi, ya, suatu saat kamu pasti bakal butuh, jadi buat anak-anak SMA atau sederajat yang mungkin baca ini, mending ikut ekskul, gih, terus bikin prestasi yang banyak kalaupun gak ikut ekskul di sekolah bikin ditempat lain. Asli harus punya prestasi banget buat kehidupan kedepannya. Nyesel aku juga waktu SMK cuma ikut teater itu juga ga pernah juara satu:( basket gak bener, jadinya malah ngemenejerin aja. Gak punya prestasi banget, kan.

BEAUTY


Tinggi
Selalu. Tinggi. Bikin. Nyesek.
Tinggi badan aku rasa adalah faktor utama, di formulir memang tercantum tinggi minimal 160cm. Tapi aku pikir, "Ah, gak ada salahnya dicoba.", dan setelahnya aku berpikir, "Salah, nih, dicoba.". Aku jadi berpikir, apa 'cantik' itu harus tinggi? Harus banget???

Cantik
Aku sering denger kalau cantik itu relatif. Tapi relatifnya orang-orang kok kayaknya menjurus ke cewek yang tinggi, putih, mancung, kalau bisa sih peranakan. Padahal kalau masalah cantik, kan, sedikasih-Nya aja, ya gak? No need and can't be change. Kenapa aku ngomong gini? Perhatiin aja artis-artis, kebanyakan mukanya indo, yang mukanya pribumi rata-rata karena orang tuanya udah duluan jadi artis kondang atau karena dari kecilnya udah jadi artis, rata-rata yang mukanya pribumi jadi pelawak, penyanyi, jarang banget yang jadi tokoh utama di film atau sinetron.

Amazing Skin
Kulit juga sama pemberian dari Tuhan, kita cuma bisa mempercantik dengan merawatnya, gak bisa menggantinya. Jadi, ya, seadanya aja. Kalau mau mulus banget mah ampelas aja:(

Brain udah, beauty udah, tinggal BEHAVIOR..

Attitude
One doesn't simply is.... act like lady. Aku dasarnya tomboy, semenjak SMK baru mulai belajar centil tapi kayaknya malah centil itu yang melekat di diri aku sampe sekarang. Banyak yang bilang aku centil banget. Ya, tiap orang boleh berpendapat. Gimana cara kamu duduk, cara kamu bicara, cara kamu bergerak.. Aaaa that makes me crazyyyyy. So manner, capek, pegel.

Aku gak marah atau pun kecewa. Aku selalu berpikir kalau aku gak berhasil melakukan sesuatu mungkin ini bukan jalan aku, mungkin memang begini lah yang Allah swt. kehendaki. Percuma aku daftar lagi di tahun berikutnya untuk gagal karena alasan yang sama (tinggi badan). Ini cuma berbagi pengalaman aja. See ya on my next article, cheers, SKN.

Kamis, 18 April 2013

Menemukan Watak Manusia Melalui Eneagram

Hai hai halo, aku mau re-post gimana caranya kamu menemukan sifat teman, keluarga, pacar, gebetan, selingkuhan, dosen, senior, junior, tetangga, tukang tahu yang suka lewat depan rumah, atau pun sifat kamu sendiri yang belum kamu sadari. Aku dapet ini waktu aku bimbel di Tridaya Pajajaran (waktu masih SMP).

     Eneagram berasal dari bahasa Yunani, ennea yang berarti sembilan. Eneagram adalah penjabaran sembilan tipe energi alam, yang masing-masing tipe menyimpan watak dan karakter. Sembilan tipe tersebut membedakan cara orang dalam menentukan pilihan, bertingkah laku, menumbuh kembangkan sifat-sifat dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Eneagram sudah dikenal dalam peradaban Asia Tengah sekitar tahun 2500 SM. Eneagram masuk ke Indonesia sekitar tahun 1975 dan beredar di kalangan terbatas.

     Dalam eneagram watak manusia dibagi menjadi sembilan: The Perfectionist, The Helper, The Achiever, The Romantic, The Observer, The Questioner, The Adventurer, The Asserter, dan The Peacemaker.

     Agak mengingatkan aku dengan Seven Deadly Sins yang kita ketahui isinya adalah Wrath, Greed, Sloth, Pride, Lust, Envy, dan Gluttony. Lebih banyak tentang ini searching aja sendiri, ya. Gak akan aku bahas disini soalnya beda topik.

     Ada 14 pertanyaan yang terdiri dari tujuh pertanyaan untuk menguji kepribadian mengenai pemecahan masalah dan tujuh pertanyaan untuk menguji sikap dan cara menghadapi kehidupan. (Usahakan jangan dulu melihat hasilnya dan jangan isi asal-asalan, ya).

I. Cara Memecahkan Masalah

1. Apa yang paling Anda inginkan dari orang lain?
    A. hormat dan kepatuhan
    B. kasih sayang dan penerimaan
    W. jarak dan privasi

2. Mana yang terbaik bagi Anda?
    A. memimpin orang lain
    D. ditolong dan dilindungi
    W. bertindak menurut cara saya sendiri

3. Mana yang Anda anggap paling penting?
    A. orang lain bertindak sesuai keinginan saya
    D. berbuat sesuai harapan orang lain
    W. menuruti kehendak saya sendiri

4. Apa yang Anda harapkan bila bertemu orang baru?
    A. berguna bagi saya
    D. semoga menyukai saya
    W. tidak akan mengganggu atau mencampuri urusan saya

5. Sifat mana yang tidak Anda sukai?
    A. cengeng
    D. intelektual
    W. agresif dan lugas

6. Apabila ada orang yang mengganggu, apa yang Anda lakukan?
    A. pamer kekuatan sehingga ia jadi takut
    D. berusaha menjadikan ia teman agar tidak mengganggu
    W. menghindar

7. Apa yang paling menjadi perhatian dalam hidup Anda?
    A. cita-cita dan karier
    D. membina hubungan dengan orang lain
    W. menjaga kehidupan pribadi

II. Cara Memandang Kehidupan

1. Pilih yang cocok dengan sikap Anda dalam menjalani hidup:
    S. saya berani menghadapi hidup
    M. saya bisa menyesuaikan diri
    R. hidup ini terkadang menakutkan

2. Bagaimana cara Anda membuat suatu keputusan?
    S. saya lakukan sendiri
    M. terlebih dahulu menundanya dengan orang lain
    R. sering kali orang lain yang memutuskan

3. Bagaimana cara mengontrol perasaan Anda?
    S. menghadapi hidup dengan tegar
    M. menyesuaikan diri terhadap tuntutan hidup
    R. ikut arus kehidupan

4. Mana yang terpenting bagi Anda?
    S. menguasai persoalan menurut cara saya
    M. menyesuaikan kebutuhan pribadi dengan kebutuhan orang lain
    R. menjaga segala sesuatu agar tetap terkendali

5. Kehidupan Anda akan lebih bila ....
    S. tantangan mudah diatasi
    M. segala sesuatu dikompromi
    R. komplikasi yang muncul hanya sedikit

6. Bila muncul masalah baru ....
    S. biasanya sanggup mengatasinya
    M. melakukan kompromi dan menyesuaikan
    R. sering kali kewalahan

7. Ketika Anda merenungkan kembali tindakan yang sudah dilakukan, gagasan apa yang sering muncul?
    S. sebenarnya, saya mampu melakukannya dengan mudah, tetapi ternyata usaha saya berlebihan
    M. sering terpaksa kompromi meski sebenarnya tidak perlu
    R. ternyata masalahnya tidak sesulit yang saya duga

Nah, sekarang waktunya otak kiri kamu bekerja. Silakan hitung jumlah jawaban kamu sesuai dengan pilihan huruf. Jika sudah, cocokkan dengan score yang kamu dapet!



*jika jawaban bagian I yang terbanyak adalah A, dan jawaban bagian II yang terbanyak adalah S, maka score kamu = 8

Score 1, The Perfectionist
Keberadaannya didorong oleh kebutuhan menjalani hidup dengan benar, realistis, memiliki suara hati yang peka, mempunyai prinsip hidup yang kuat, idealisme tinggi, selalu mengejar kesempurnaan, etis, terpercaya, produktif, bijak, adil, jujur, rapi, dan disiplin.
Sifat buruknya yaitu suka menilai dan mengkritik, tak terbengkokkan, dogmatis (sikap seseorang atau karakteristik seseorang yang cenderung tertutup), obsesif-kompulsif, terlalu serius, mengontrol, khawatir, iri hati.

Score 2, The Helper
Dimotivasi oleh kebutuhan dicintai dan dihargai, sangat peduli dengan lingkungannya, suka membesarkan hati, peka terhadap kebutuhan orang lain, cepat akrab, mudah menyesuaikan diri, dermawan, antusias, bersemangat.
Sifat buruknya yaitu mengorbankan diri, suka basa-basi, pandai merekayasa, posesif, histeris, lebih tertuju pada kesibukan di luar.

Score 3, The Achiever
Penuh semangat, optimis, percaya diri, dan tindakannya terarah pada tujuan yang ingin dicapai. Rajin, efisien, mandiri, kuat, dan praktis.
Sifat buruknya yaitu suka menipu, narsis, berpura-pura, sombong, bergaya bagai bos, pendendam, kelewat bersalah. (Wow, hati-hati dengan orang tipe ini, guys!)

Score 4, The Romantic
Tindakannya didorong oleh kebutuhan mendapatkan pengalaman perasaan serta untuk mencari arti kehidupan, sangat peka, hangat, pengertian, simpati, introspeksi, terbuka, kreatif, intuitif, mendukung, dan lembut.
Sifat buruknya yaitu  merasa tertekan dan bersalah, murung, terkungkung pada diri, dan keras kepala.

Score 5, The Observer
Memiliki kecenderungan  kebutuhan yang besar akan ilmu pengetahuan, puas pada diri sendiri, penganalisis hebat, tekun, peka, bijak, objektif, pengertian, dan menahan diri.
Sifat buruknya yaitu berlagak intelek, judes, keras kepala, bersikap menjauh, suka mengkritik orang lain, sulit diyakinkan, berpikiran negatif.

Score 6, The Questioner
Dinamika hidupnya dimotivasi oleh kebutuhan terhadap kepastian, penuh tanggung jawab, dapat dipercaya, loyal, disenangi, perhatian, tulus, cerdik, dan praktis.
Sifat buruknya yaitu paranoid, mengontrol, tak dapat ditangguh, mengadili, defensif, kaku, menyiksa diri, dan suka nge-test orang lain.

Score 7, The Adventurer
Tindakannya didorong oleh kebutuhan mencapai rasa bahagia, penuh semangat, lincah, optimis, bersenang-senang, spontan, imajinatif, produktif, percaya diri, memukau, dan ingin tahu.
Sifat buruknya yaitu suka berfoya-foya, tak terpusat, pemberontak, tidak disiplin, posesif, maniak, menghancurkan diri, dan tidak tenang. (Hiiyyy ngeray qaqa)

Score 8, The Asserter
Perilakunya didorong oleh kebutuhan rasa percaya diri, menghindari perasaan lemah dan bergantung pada orang lain, suka blak-blakan, berkuasa, setia, penuh semangat, manusiawi, dan melindungi.
Sifat buruknya yaitu menguasai, pemberontak, tak punya perasaan dan suka menindas (katanya manusiawi, ya?), terpusat pada diri, meremehkan, dan agresif.

Score 9, The Peacemaker
Cenderung membutuhkan rasa tentram dan mempertahankan rasa tentram tersebut, menghindari konflik, menyenangkan, mengutamakan damai, murah hati, sabar, mudah mengerti, diplomatis, pandangannya terbuka, dan empati.
Sifat buruknya yaitu suka menunda-nunda, mengambil jarak, pelupa, keras kepala, terobsesi, apatis, suka mengadili, dan sulit diyakinkan.

     Kamu termasuk di golongan yang mana, nih? Kalo sifatnya gak 100% sama banget ya maaf-maaf aja, jangan salahin aku. Kan cuma re-post :D
Kalau aku waktu SMP tuh termasuk golongan yang suka nolong yaitu The Helper. Tapi seiring berjalannya waktu, sifat, pola pikir, dan cara pandang tiap orang pasti berubah. Dan aku pun begitu. Awal 2013 aku jadi komunitasnya orang blak-blakan a.k.a The Asserter. Dan setelah aku mengetik ini, sambil dipilih-pilih lagi kan jawabannya, ternyata gak sama semuanya kayak jawaban aku waktu awal 2013, cepet amat ya berubah pola pikirnya.. Entah ini hal bagus atau ngga.

     Masih banyak cara untuk mengetahui sifat seseorang, kalo lagi mood ntar aku post lagi. Sampai disini dulu ya guys, mohon maaf bila ada kesalahan dan kalau ketikan aku susah dimengerti. Love yaaa and God bless yaaa :* Cheers, SKN.




Apa yang dipikirkan mereka sebelum pesta makan malam...

Score 1: "Ku harap aku dapat menyuguhkan anggur yang terbaik."
Score 2: "Ku harap disana orang akan cocok satu sama lain."
Score 3: "Aku akan menjalin banyak hubungan kerja sama dengan orang-orang."
Score 4: "Aku nggak semangat pergi ke pesta...."
Score 5: "Aku mau tinggal di rumah saja, ah, bersama buku ensiklopediaku."
Score 6: "Aku tak boleh lupa memberi makan kucingku dan mengurungnya."
Score 7: "Kalau pestanya gak menarik, aku masih punya acara lain."
Score 8: "Aku akan meninggalkan pesta jika tak ada anggur, wanita, atau musik yang OK."
Score 9: "Saya akan merasa kerasan di pesta jika nanti malam bisa menjalin hubungan yang baik."

pesta makan malam...


Score 1: "Variasi menunya kurang."
Score 2: "Betapa senang merasa dibutuhkan."
Score 3: "Aku perlu makan cepat-cepat lalu lari, banyak urusan."
Score 4: "Caviar murahan, 'kejutan'."
Score 5: "Kelompok gosip, ini baru bikin aku betah ada disini."
Score 6: "Score 3 cepat pulang, apakah dia nggak senang sama kita?"
Score 7: "Aku mau makan dulu, lalu ambil foto, lalu pergi kursus, lalu... lalu... lalu..."
Score 8: "Teruskan kesini makanan itu semuanya!"
Score 9: "Aku merasa dekat dengan semua orang."

setelah pesta makan malam...


Score 1: "Kuharap mereka tak sakit hati karena kritikanku."
Score 2: "Aku amat lelah, tetapi aku senang semua orang menikmati pesta."
Score 3: "Aku tak banyak membuat kontak dalam acara makan malam tadi, tetapi akan aku lakukan pada pencarian dana nanti."
Score 4: "Percakapan di pesta tadi tak berkesan, biasa-biasa saja."
Score 5: "Aku senang bisa pulang lebih awal, jadi aku bisa membaca bukuku sekarang."
Score 6: "Hehe, lega dan aman sudah tiba di rumah lagi."
Score 7: *Masih keluyuran cari hiburan lain* (buset dah)
Score 8: "Aku yakin aku telah dapat memukul dia dalam debat tadi.."
Score 9: "Oh, aku gembira, mereka menyukai ceritaku."

Jumat, 05 April 2013

Kursus Jahit (lanjutan)

    Hari ini terakhir aku kursus jahit di Yani 16, Jalan Cijerah, lupa nomor berapanya. Kalo mau nyari alamatnya gak jauh dari Borma, kok, sebelum Boston Pal 3. Sebelahnya ada toko helm -> bengkel -> warnet. Tempat itu bagus sekali untuk kamu-kamu yang berdomisili di Cijerah dan sekitarnya yang ingin belajar menjahit. Walaupun tempatnya kecil, sareukseuk, dan hareudang, gak ada kipas angin dan semacamnya, tapi di sebelahnya ada warung. Jadi kalo gerah banget beli aja es batu terus taro di jidat kamu. 

    Jujur pertama aku kursus ingin cepet-cepet beres. Orang lain (baca: anak UNIKOM yang lain) enak-enak liburan, travelling, hang out.. lah, aku harus kursus dari Senin-Jumat selama dua bulan. Sama aja gak liburan! Awal-awal kursus aku tuh males, ogah-ogahan. Pertama, dikasih rumus untuk bikin pola tuh, beuh, puyeng. Kedua, waktu pertama megang mesin jahit, ada aja kejadian. Kalo nggak benangnya putus, jarumnya patah, terus jahitannya gak rapi.. Ngeselin deh, pokoknya. Tapi perasaanku berubah saat aku berhasil membuat satu rok.

Rok Pertama

     Gimana Roknya? Bagus gak? Aku buat ini padahal baru dua hari pegang mesin jahit, jadi masih ya-gitu-deh jahitannya, mhehehe. Rok ini walau pun gak terlalu oke, tapi membuat semangat semakin berkobar. Ternyata menjahit itu fun, loh. Pada awalnya menjengkelkan, memang, apalagi untuk orang yang keselan kayak aku.

     Lalu aku mulai terinspirasi untuk membuat banyak model pakaian, aku gambar di binder yang biasa aku pake ngampus, dan akhirnya binder itu dialokasikan menjadi tempat design aku aja. Untuk ngampus aku pake yang lain. Hahahahaha. Sekarang gambarnya sudah hampir lima puluh design, tapi baru dua yang terealisasikan, haha.
Ini hasil jahitan aku yang lain:

Dress Pertama

     Wuhuuuu, dress pertama aku! Gimana? Cociks khaaannn?
Habis itu kalau gak salah aku bikin kemeja, asalnya buat aku pakai, toh aku bikinnya ukuran aku juga. Tapi dikarenakan waktu itu dompet menipis, padahal belum beli kain untuk bikin kado ulang tahun mamce. Jadi aku jual kemejanya ke orang Ciamis kesayangan aku.. Untung ukurannya sama.

Kemeja Pertama

Orang Ciamis (baca: Pembeli Pertama)

Model: Yulia Istiqomah @yulajuly

     Dari uang hasil penjualan yang secara "agak maksa" itu, aku dapat dua kain. Tiga meter kain pink bunga-bunga untuk abaya mamce, dan satu meter kain hitam bunga-bunga untuk rok aku yang belum sempat dijahit.
     Oh iya, dari sisa kain untuk dress sama untuk kemeja, aku bikin ini untuk baby yang sudah aku anggap keponakan sendiri:


Baju buat Dede Atiqah

Hasil jahitan lainnya: 

Chiffon Bat Wing

Abaya Mamce

My Masterpiece! Dress Batik

Kalau dipakai, kayak gini, nih!

Tampak Depan

Tampak Belakang

Sprei

Kemeja Ikat Tanpa Lengan

Model: Putri Nurul Arasyani @putriarasyani

     Dulu aku memang pernah bercita-cita untuk punya butik. Sebenarnya cita-cita itu masih ada, sih, sampai sekarang. Dan baru mulai terealisasikannya sekarang-sekarang. Nama untuk butiknya udah ada, design labelnya pun udah ada. Aku pesen ke school-mate aku waktu SMK, @JaysMaulana. Dengan "harga kawan" aku dapet nama dan design yang keren sekali, CLAVIER TEARS. Dua kata, tapi penuh makna. Aku sangat merekomendasikan untuk kamu-kamu yang mau bikin design, or something like that, ke Jae aja. Di usianya yang masih muda, U-20, dia sangat mengerti kemauan konsumen dan sangat profesional.

     Kalau aja aku punya mesin jahit di rumah, mungkin jumlah produksinya bakal terus meningkat. Sayang, mesin jahit mamce udah lama rusak dan memang udah gak layak pakai. Sekarang aku udah gak kursus lagi,  kan. Bingung deh, mau ngejahit dimana. Nyesel juga waktu itu sempet bolos beberapa kali. Ternyata dua bulan itu sangat teramat tidak cukup untuk bisa mahir menjahit. Sifat aku yang selalu menggampangkan sesuatu memang harus di kurangi porsinya. Terlalu santai juga bisa merugikan ya, guys. Aku kira menjahit itu gampang, cuma potong kain, pasang benang, injek-injek apa lah itu yang posisinya di bawah mesin, tapi menjahit ternyata lebih dari itu. Dari menjahit aku belajar sabar, belajar teliti, belajar disiplin, karena kalau kamu melewatkan satu step soalnya sudah merasa jago, jahitan kamu gak akan bagus. Intinya kalau baru belajar jangan sok jago dulu, aku sudah mengerti itu, pengalaman, hehe. 

    I wanna thank to Allah swt. yang memperkenalkan dan meridhai aku menjahit, kepada mamce dan papap yang membiayai dan senantiasa menjemput sepulang kursus, kepada guru menjahitku tersayang Ibu Sari yang selalu baik dan dengan sabar menerangkan cara-cara membuat pola dan menjahit, juga terimakasih karena sudah dengan lapang dada membuatkan pola dari design-designku yang sering gak di mengerti dan di ketawain orang lain, kepada ibu-ibu dan teteh-teteh di Yani 16 yang asoy-asoy yang membuat menjahit jadi tidak jenuh karena diselingi tawa dan gosip, kepada kakak, teman-teman, dan ibu-ibu pengajian teman mamce yang selalu mendukung dan menyemangati aku untuk terus berkarya dan mengembangkan bakat, kepada @yuliajuly yang telah rela dijadikan korban pertama aku, karena kamu aku jadi merasakan memiliki uang dengan jerih payah sendiri, aku bikin kemeja itu lima hari, loh.. kepada tukang obras, kepada tukang kain di Cigondewah, Pasar Baru, dan Balubur Town Square, kepada tumblr, instagram, twitter, facebook,  blogger, dan tentu saja google, sebagai sumber referensi fashion aku selain majalah, kepada Raden Jays Maulana Mukmin a.k.a Jae yang sudah membuatkan design dan nama label yang indah buat aku, kepada film "Tampan Tailor" yang baru aku tonton kemarin-kemarin sama @kusumawatinurul, aku jadi ngerti kalau menjahit tuh gak bisa gerusak gerusuk, musti telaten.
    Aku mohon doa restu kepada siapa pun yang membaca ini agar aku diberikan jalan untuk sukses di bidang ini. Semoga CLAVIER TEARS akan segera dikenal dan diminati banyak orang. AMIIIINNNN. Allah swt. bless you, all. Cheers, SKN :-D

Minggu, 10 Maret 2013

.......

Beberapa minggu ini agak menyeramkan. Selain awal dari semester 2 dan aku masih belum menemukan semangat untuk kuliah, aku juga sakit. Batuk doang sih. Tapi biasanya aku kalau batuk 1 minggu juga sembuh. Ini tuh lain, batuknya awet. Hampir 2 minggu dan gak bedahak, tapi bikin sesak dada. Aku jadi lumayan takut. Semoga aku gak apa-apa.... SKN.

Sabtu, 09 Maret 2013

Andhika Triyadi

Aku jatuh cinta.
Jatuh cinta pada kali pertama.
Aku tidak melihatnya, tidak tahu wujudnya, tapi aku mendengarnya.
Ya, sejak pertama aku mendengarkan musiknya.
Musiknya lembut, menyentuh, indah menyapa telingaku.
Aku merasakan musiknya.
Ada yang sedih, ada yang senang, ada juga yang membuatku teringat pada hal konyol sehingga aku jadi senyum-senyum sendiri.
Disaat yang lain merengek-rengek ingin mendownload scoringnya,
Hampir setiap malam aku buka soundcloudnya, berjam-jam aku repeat semua musiknya.
Bikin nagih, sih.
Hebatnya, aku bahkan pernah menangis karena musiknya.
Itu baru musiknya, gimana kalau ditambah lagu. Mungkin aku bisa menangis tersedu-sedu :-|
Aku memang bukan orang musik, aku gak banyak mengerti, tapi aku bisa merasakan.
Aku suka musiknya.

Cheers, SKN.