YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Google+ Followers

Selasa, 14 Mei 2013

Syarat Agar Disebut Cantik

     Ini sebenarnya semacam curhat, pengalaman pribadi. Tempo hari aku ikut acara pemilihan gitu lah di kota tempat aku tinggal, pertama dilakukan tes tulis dan wawancara. Di hari itu juga pengumumannya, dan aku gak lolos. Aku sadar sih aku memang 'kurang' makanya gak lolos, tapi karena gak dikasih tahu kurangnya ada dimana, walaupun aku ikut ini cuma 'gosok-gosok berhadiah', aku jadi kepikiran juga.. Kira-kira yang kurang apanya, ya?

BRAIN


Wawasan Luas
Otak itu penting. Penting banget malah. Aku sadar aku memang belum banyak mengetahui tentang kota ini, walaupun sejak 18 tahun yang lalu udah tinggal disini, keluarga aku bukan tipe explorer jadi aku memang jarang jalan-jalan kecuali sama teman-teman. Aku gak tahu banyak tentang pariwisata, batik, dan apapun yang berbau tradisional dari kota ini, dari provinsi ini, dan luasnya, dari Indonesia.

Bahasa
Disini dituntut untuk menguasai minimal tiga bahasa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Daerah. Untuk Bahasa Indonesia aku rasa gak ada masalah untuk wawancara, masalah datang pada dua bahasa lainnya. Walaupun saat ini aku sedang berkuliah di jurusan Sastra Inggris, aku belum merasa sudah fasih berbahasa Inggris layaknya native speaker. Apalagi bahasa Sunda, sebetulnya aku menyelipkan bahasa Sunda di percakapanku sehari-hari, walaupun gak sepenuhnya tapi aku tetap menggunakannya. Ternyata kalimat bahasa Sunda-ku sehari-hari salah total. Susunannya, cara bacanya, kalau guru bahasa Sunda aku semasa SD, SMP, dan SMK tahu, bisa ngambek nih kayaknya. Aku benar-benar kesulitan saat dites bahasa Sunda. Aku udah yakin aku gagal total disini.

Bakat
Waktu mau nulis kolom "Prestasi : .........." aja aku sampe gak jadi dan nyimpen berkas formulirnya dua hari. Bakat aku apa? Sampe muter otak berapa kali tetep gak ketemu jawabannya. Mungkin inilah kenapa semasa sekolah dulu aku sering mendengar "WAJIB MENGIKUTI EKSKUL, JIKA TIDAK MAKA SISWA TAK AKAN NAIK KELAS". Aku yang sedari kecil sangat tidak mempercayai mitos, atau apapun yang terdengar 'lucu' gak akan pernah aku lakuin. Malah semacam ingin nantangin, bener gak nih, bakal gak naik kelas?
     Kayak waktu SD aku inget banget ada salah satu temen aku bilang harus nyudah tiga kali kalo liat kadal, ntar anaknya kayak kadal. Gak boleh nyiumin pulpen harum yang ada gantungannya soalnya berisi narkoba (yakaleee, pusat rehabilitasi penuh sama anak SD. Emang tuh pulpen gak dites dulu sebelum menuju ke pasar), kalau pensil udah lebih pendek dari kelingking harus dibuang soalnya ntar ibu kamu mati (kamu kira nyawa ibu aku bisa diukur dari pensil yang dibeli di warung?), pabanyak-banyak cerita ketemu hantu (biar disangka anak indigo mereun), gak boleh nyanyi lagu aserehe plus joged-jogednya, soalnya lagu manggil cetan (uuu dukun kaliyaaa). Daaan masih banyak lagi. Aku cuma ketawa renyah aja ngedenger temen ngomong gitu.
     Kenapa aku bisa sampai titik gak bisa percaya mitos dari SD--yang kalau aku pikir sih masih kecil banget dulu tuh--karena sahabat aku dari TK punya pemikiran yang sama dengan aku. Aku percaya lingkungan bisa merubah seseorang, dan aku bersyukur aku diketemuin sama dia di lingkungan aku. Kami akhir-akhir ini suka bertukar pandangan tentang sesuatu, kami bisa bercerita atau pun berdebat sampai larut malam membahas berbagai macam hal. Ada beberapa pemikirian dia yang berhasil merubah kehidupan aku, dan sisanya sih aku dan dia ternyata memang sudah satu pikiran.
     Walau pun sempet ada beberapa mitos yang sempet mau aku percaya tapi seiring bertambahnya usia, aku sulit untuk percaya mitos sekarang. Sekalinya tergoda untuk percaya aku selalu berpikir rasional dan aku selalu ingat aku punya Al-Qur'an, dan punya teman untuk di-share dan diminta pendapatnya. Tapi ada dua hal yang entah masuk kategori mitos atau apa, aku percaya kekuatan sompral dan aku percaya what you give is what you deserve. Makanya aku selalu menyesal setiap kali aku bercanda kelewatan sehingga menjadi sompral, dan berusaha tidak mengulanginya lagi. Aku juga selalu berusaha menjadi pribadi yang menyenangkan untuk semua orang, walau pun adalah hal yang tidak memunginkan untuk bisa menyenanangkan semua orang.. At least I tried.
     Balik lagi ke topik, mungkin kurikulum sekolah memang sudah menyusunnya sedemikian rupa untuk masa depan siswa siswinya, makanya diwajibkan ikut ekskul. Siswa siswinya aja yang bandel, males ikut atau sok sibuk gitu kayak aku. Sekarang kerasa, beneran deh kerasaaaa banget. Ternyata berorganisasi itu kebutuhan. Walaupun aku gak suka karena terlalu terikat, senioritas, terlalu formal, it's boring for me. Tapi, ya, suatu saat kamu pasti bakal butuh, jadi buat anak-anak SMA atau sederajat yang mungkin baca ini, mending ikut ekskul, gih, terus bikin prestasi yang banyak kalaupun gak ikut ekskul di sekolah bikin ditempat lain. Asli harus punya prestasi banget buat kehidupan kedepannya. Nyesel aku juga waktu SMK cuma ikut teater itu juga ga pernah juara satu:( basket gak bener, jadinya malah ngemenejerin aja. Gak punya prestasi banget, kan.

BEAUTY


Tinggi
Selalu. Tinggi. Bikin. Nyesek.
Tinggi badan aku rasa adalah faktor utama, di formulir memang tercantum tinggi minimal 160cm. Tapi aku pikir, "Ah, gak ada salahnya dicoba.", dan setelahnya aku berpikir, "Salah, nih, dicoba.". Aku jadi berpikir, apa 'cantik' itu harus tinggi? Harus banget???

Cantik
Aku sering denger kalau cantik itu relatif. Tapi relatifnya orang-orang kok kayaknya menjurus ke cewek yang tinggi, putih, mancung, kalau bisa sih peranakan. Padahal kalau masalah cantik, kan, sedikasih-Nya aja, ya gak? No need and can't be change. Kenapa aku ngomong gini? Perhatiin aja artis-artis, kebanyakan mukanya indo, yang mukanya pribumi rata-rata karena orang tuanya udah duluan jadi artis kondang atau karena dari kecilnya udah jadi artis, rata-rata yang mukanya pribumi jadi pelawak, penyanyi, jarang banget yang jadi tokoh utama di film atau sinetron.

Amazing Skin
Kulit juga sama pemberian dari Tuhan, kita cuma bisa mempercantik dengan merawatnya, gak bisa menggantinya. Jadi, ya, seadanya aja. Kalau mau mulus banget mah ampelas aja:(

Brain udah, beauty udah, tinggal BEHAVIOR..

Attitude
One doesn't simply is.... act like lady. Aku dasarnya tomboy, semenjak SMK baru mulai belajar centil tapi kayaknya malah centil itu yang melekat di diri aku sampe sekarang. Banyak yang bilang aku centil banget. Ya, tiap orang boleh berpendapat. Gimana cara kamu duduk, cara kamu bicara, cara kamu bergerak.. Aaaa that makes me crazyyyyy. So manner, capek, pegel.

Aku gak marah atau pun kecewa. Aku selalu berpikir kalau aku gak berhasil melakukan sesuatu mungkin ini bukan jalan aku, mungkin memang begini lah yang Allah swt. kehendaki. Percuma aku daftar lagi di tahun berikutnya untuk gagal karena alasan yang sama (tinggi badan). Ini cuma berbagi pengalaman aja. See ya on my next article, cheers, SKN.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar